Ketika yang seharusnya menangkap pencuri
malah mencuri, yang seharusnya menghabisi pengedar narkoba malah pengguna, yang
mengadili kejahatan malah penjahatnya, maka saat itulah mungkin layak pikirkan
revolusi.
Ketika yang seharusnya mendidik malah
mencari uang, yang sudah digaji cukup tiap bulan malah melakukan pungli, yang
duduk nyaman sejahtera malah bengis memalak, maka saat itulah mungkin layak
pikirkan revolusi.
Ketika yang diberikan amanah malah lupa
diri, yang berkuasa menunjuk keluarga dan kerabatnya, maka saat itulah mungkin
layak pikirkan revolusi.
Tapi siapa yang akan menggerakan revolusi
ini? Apakah kita?
Karena di jalan-jalan raya, bukankah kita
melintas dengan melanggar seluruh peraturan yang ada. Di jam-jam kerja, kita
korup waktu kerja dan hak-hak orang lain. Pun kita bajak, curi, berpesta atas
jerih payah orang lain? Atau antrian kita selak, tim
bangan kita kurangi. Orang lain tidak
boleh, kita boleh. Bilang idealis, tapi diam-diam bermuka dua. Dan masih banyak
lagi daftarnya.
Siapa yang akan menggerakan revolusi ini,
kawan? Karena berpuluh tahun lalu orang-orang yang berdiri di depan gerakan
Malah sekarang adalah pesakitan, Orang-orang yang berbicara kejujuran dan integritas
malah sekarang penghianat paling zaim.
Maka saat itulah mungkin layak pikirkan revolusi.
#Tere Liye










