Kamis, 26 Desember 2013

Sajak Revolusi


Ketika yang seharusnya menangkap pencuri malah mencuri, yang seharusnya menghabisi pengedar narkoba malah pengguna, yang mengadili kejahatan malah penjahatnya, maka saat itulah mungkin layak pikirkan revolusi.
Ketika yang seharusnya mendidik malah mencari uang, yang sudah digaji cukup tiap bulan malah melakukan pungli, yang duduk nyaman sejahtera malah bengis memalak, maka saat itulah mungkin layak pikirkan revolusi.
Ketika yang diberikan amanah malah lupa diri, yang berkuasa menunjuk keluarga dan kerabatnya, maka saat itulah mungkin layak pikirkan revolusi.
Tapi siapa yang akan menggerakan revolusi ini? Apakah kita?
Karena di jalan-jalan raya, bukankah kita melintas dengan melanggar seluruh peraturan yang ada. Di jam-jam kerja, kita korup waktu kerja dan hak-hak orang lain. Pun kita bajak, curi, berpesta atas jerih payah orang lain? Atau antrian kita selak, tim
bangan kita kurangi. Orang lain tidak boleh, kita boleh. Bilang idealis, tapi diam-diam bermuka dua. Dan masih banyak lagi daftarnya.
Siapa yang akan menggerakan revolusi ini, kawan? Karena berpuluh tahun lalu orang-orang yang berdiri di depan gerakan Malah sekarang adalah pesakitan, Orang-orang yang berbicara kejujuran dan integritas malah sekarang penghianat paling zaim.                                                                                                            Maka saat itulah mungkin layak pikirkan revolusi.

#Tere Liye

1 komentar: